Tuesday, April 28, 2009

Kini Aku Tahu

Kini aku tahu – dan mengerti. Mengapa ia menulis sebuah blog. Mengapa juga ia dapat menulis dengan baik. Ini bukan hanya sekedar hobinya – kegemarannya. Ini bicara tentang hati dan pikiran. Aku yakin, saat ia menulis, banyak yang ingin ia keluarkan dari pikirannya.
Aku meminta maaf sebelumnya kepada dua orang yang merasa bahwa mereka aku bicarakan di sini. Satu orang yang tulisannya kubaca tanpa ijin, maafkan aku. Satu orang lagi yang menganggap bahwa perbuatannya adalah semacam perbuatan balas dendam. Tapi aku benar-benar ingin menuliskan semuanya di sini. Maafkan aku.
Hari ini aku membaca. Membaca sebuah cerita tulisannya.
Indah.
Sederhana.
Rumit.
Itulah yang akan aku katakan jika kamu menanyakan bagaimana tulisannya? Aku tahu, banyak orang yang berebut ingin membaca tulisannya.
Untaian katanya sederhana. Tapi rumit dan mempunyai makna yang sangat dalam. Aku menyukainya. Kata-katanya teruntai dengan indah. Kata per kata. Kalimat per kalimat. Semuanya terlihat indah di mataku. Cerita itu takkan terlihat indah jika aku hanya memandangnya. Tentu saja aku membacanya. Kurasuki setiap katanya. Mencoba untuk mengatahui apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Tak cukup sulit juga untuk mengetahui isi hatinya – juga pikirannya – saat itu. Mungkin, jika aku ada di posisinya saat itu, aku akan menangis dan diam. Aku takkan berbuat apa-apa. Mungkin saja aku akan mogok untuk mengerjakan apapun, kecuali menangis dan merenungkan semua kejadian yang kualami. Tapi aku tahu, takkan ada gunanya jika aku hanya menangis dan diam. Masalah tidak akan selesai dengan diam.

Aku dan dia tak cukup berbeda. Walaupun tak saling mengenal dekat, tapi aku yakin aku tidak cukup berbeda dengan dirinya. Tidak cukup sama juga.
Aku dapat berjalan, dan dia juga. Tapi, bukankah semua orang yang aku kenal dapat berjalan? Itu tidak cukup untuk membuatku tak cukup berbeda darinya.
Bagaimana kalau.. Hmm.. Aku berambut panjang, bukankah dia juga? Bukan. Bukan itu.
Aku tahu apa yang membuat kami tak cukup berbeda. Dia dan aku sering disakiti. Dan juga kehilangan orang yang masing-masing kami sayangi. Bukankah begitu? Walaupun tidak, aku yakin kami tak cukup berbeda. Entahlah. Hanya dia yang tahu tentang ini. Bahkan aku pun tak tahu apakah ia menyayangi orang itu atau tidak. Tak pernah tahu. Dan aku tak ingin tahu. Ada satu hal yang ingin aku tahu setelah aku membaca tulisannya. Tapi aku tak akan membahas tentang itu sekarang. Aku akan membahas tentang satu hal yang aku ketahui setelah aku membaca tulisannya. Ini sungguh terjadi.
Orang itu – yang menganggap perbuatannya adalah semacam perbuatan balas dendam. Dengan kelakuannya yang selama ini aku tahu, ternyata aku tak cukup tahu tentangnya. Kami memang tidak dekat, tapi kami saling kenal. Tapi tak kusangka orang seperti itu mempunyai pengalaman seperti – aku takkan menceritakannya disini, takkan pernah. Yang pasti, orang itu pernah mengalami sesuatu yang bernama cinta. Yah, CINTA. Cerita cinta seperti itu yang kupikir hanya akan terjadi pada seseorang yang terlihat pernah merasakan cinta. Tetapi orang itu sama sekali tidak pernah terlihat seperti sedang jatuh ke dalam perangkap yang paling jahat dan paling indah – Cinta.
Seharusnya saat ini kamu tahu apa yang aku ketahui setelah aku membaca tulisannya.
Setiap orang pasti pernah, sedang, atau akan merasakan cinta.
Itu yang aku ketahui.
Semua orang merasakannya. Tak mau tahu kapan seseorang itu merasakannya. Atau seperti apa cinta yang pernah ia rasakan.
Cinta yang penuh ketulusan.
Cinta yang penuh kepalsuan.
Cinta yang penuh kebahagiaan.
Cinta yang penuh kekejaman.
Cinta yang membutuhkan pengorbanan – yang mungkin terasa indah nantinya walau sekarang terasa sakit.
Cinta yang berakhir dengan perpisahan.
Cinta yang berakhir dengan bahagia.
Atau juga bagaimana rasa cinta yang ia rasakan.
Pahit. Manis. Asam. Asin. Pedas. Tawar.